Kamis, 24 November 2016

PERENCANAAN, INTERVENSI DAN EVALUASI PROGRAM GIZI (Lima Langkah Pengelolaan Program Perbaikan Gizi Di Puskesmas Kamonji)

TUGAS KELOMPOK
PERENCANAAN, INTERVENSI DAN EVALUASI PROGRAM GIZI
(Lima Langkah Pengelolaan Program Perbaikan Gizi Di Puskesmas Kamonji)

Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: Description: untad-logo-www.kakarmand.blogspot.com+surat.JPG
 

















PEMINATAN GIZI KESEHATAN MASYARAKAT
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2016





Lima Langkah Pengelolaan Program Perbaikan Gizi Di Puskesmas

Lima langkah pengelolaan program perbaikan gizi di Puskesmas pada dasarnya sama dengan langkah-langkah pada pedoman pengelolaann gizi yang dilakukan di Tingkat Kabupaten yang dikeluarkan Direktorat Bina Gizi Depkes RI, dimulai dari langkah pertama yaitu Identifikasi Masalah, kemudian Langkah Kedua Analisis masalah. Langkah pertama dan kedua biasa dikenal dengan perencanaan (planning). Langkah Ketiga adalah Menentukan kegiatan perbaikan gizi, langkah ini biasa juga dikenal atau disebut juga dengan pengorganisasian (organising). Langkah Keempat adalah melaksanakan program perbaikan gizi, langkah ini disebut juga dengan Pelaksanaan (actuating). Dan yang terakhir adalah Langkah Kelima yaitu pantauan dan evaluasi, langkah ini disebut juga dengan (controlling and evaluation).
1.    Identifikasi Masalah
Dalam identifikasi masalah gizi, langkah-langkah yang perlu diperhatikan adalah mempelajari data berupa angka atau keterangan-keterangan yang berhubungan dengan identifikasi masalah gizi. Kemudian melakukan validasi terhadap data yang tersedia, maksudnya melihat kembali data, apakah sudah sesuai dengan data yang seharusnya dikumpulkan dan dipelajari. Selanjutnya mempelajari besaran dan sebaran masalah gizi, setelah itu rumuskan masalah gizi dengan menggunakan jumlah kasus.
1)   Pneunomia
Data Pneunomia
Di puskesmas kamonji kejadian pneunomia pada tahun 2013 sebanyak 953 kasus, kemudian terjadi penurunan pada tahun 2014  sebanyak 731 kasus dan pada tahun 2015 terjadi lagi penurunan kejadian pneunomia sebanyak 496 kasus. Dilihat dari jumlah kasus, terjadi penurunan dari tahun 2014 dan 2015.
Dampak Bagi Individu
Anak yang menderita pneumonia, kemampuan paru-paru untuk mengembang berkurang sehingga tubuh bereaksi dengan bernapas cepat agar tidak terjadi hipoksia (kekurangan oksigen). Apabila pneumonia bertambah parah, paru akan bertambah kaku dan timbul tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Anak dengan pneumonia dapat meninggal karena hipoksia atau sepsis (infeksi menyeluruh) (Kemenkes RI, 2009).
Dampak Bagi Masyarakat
Dampak pneumonia terhadap masyarakat yaitu sebagai pembunuh utama anak dibawah usia lima tahun (Balita). Di dunia, dari 9 juta kematian Balita lebih dari 2 juta Balita meninggal setiap tahun akibat pneumonia atau sama dengan 4 Balita meninggal setiap menitnya. Dari lima kematian Balita, satu diantaranya disebabkan pneumonia (Kemenkes RI, 2009).
2)   Diare
Data Diare
Di puskesmas kamonji kejadian diare pada tahun 2013 sebanyak 721 kasus, kemudian pada tahun 2014 terjadi peningkatan sebanyak 783 kasus dan pada tahun 2015 terjadi peningkatan lagi sebanyak 838 kasus. Dilihat dari jumlah kasus, terjadi peningkatan dari tahun 2014 dan 2015.
Dampak Bagi Individu
Dampak negatif penyakit diare pada bayi dan anak-anak antara lain menghambat proses tumbuh kembang anak yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup anak (Nelson, 2009).
Dampak Bagi Masyarakat
Penyakit ini mempunyai konotasi yang mengerikan serta menimbulkan kecemasan dan kepanikan warga masyarakat karena bila tidak segera diobati, dalam waktu singkat penderita akan meninggal (Nelson, 2009).
3)   BBLR
Data BBLR
Di puskesmas kamonji kejadian BBLR pada tahun 2013 sebanyak 8 kasus, kemudian pada tahun 2014 terjadi peningkatan sebanyak 41 kasus dan pada tahun 2015 terjadi penurunan sebanyak 16 kasus. Dilihat dari jumlah kasus, terjadi fluktuasi.

Dampak Bagi Individu
Dampak BBLR bagi individu yaitu, memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami keterbelakangan pada awal pertumbuhan, mudah terkena penyakit dan mengalami kematian selama masa bayi dan masa anak-anak (WHO 2011 dalam Sulistiani K, 2014).
Dampak Bagi Masyarakat
Dampak BBLR bagi masyarakat yaitu, menyebabkan berbagai masalah kesehatan, salah satunya masalah kesehatan jangka panjang (WHO 2011 dalam Sulistiani K, 2014).
4)   ASI Eksklusif
Data ASI Eksklusif
Di puskesmas kamonji pemberian ASI Eksklusif pada tahun 2013 sebanyak  606 bayi, kemudian pada tahun 2014 terjadi penurunan pemberian  ASI Eksklusif sebanyak 440 bayi dan pada tahun 2015 terjadi penurunan sebanyak 290 bayi. Dilihat dari jumlah kasus, terjadi penurunan pemberian ASI Eksklusif.
Dampak Bagi Individu
Dampak yang ditimbulkan akibat pemberian ASI tidak memadai adalah pertumbuhan bayi terganggu, perkembangan bayi terhambat, bayi mudah terserang penyakit, hubungan kasih sayang ibu tidak terjalin dengan baik (Suprijati, 2001).
Dampak Bagi Masyarakat
Dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat akibat pemberian ASI tidak memadai yaitu kejadian Kurang Energi Protein (KEP) pada bayi. Rendahnya pemberian ASI Eksklusif dapat memberikan peluang bagi penggunaan susu formula bayi atau Pengganti ASI (PASI) maupun penggunaan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang terlalu dini, mempunyai resiko terjadinya diare, sehingga dapat menyebabkan terjadinya KEP pada anak balita. (Departemen Kesehatan RI 2005 dalam Mardji 2014).
Bahwa rendahnya angka pencapaian ASI eksklusif yang terus menerus tentu saja berpengaruh terhadap rendahnya semua fungsi intelektual, kemampuan verbal, dan kemampuan visual motorik bayi. Bayi yang tidak pernah mendapat ASI berisiko meninggal 25,00% lebih tinggi dalam periode sesudah kelahiran daripada bayi yang mendapat ASI. Pemberian ASI yang lebih lama akan menurunkan resiko mortalitas bayi (Roesli 2008 dalam Mardji 2014).
5)   Gizi Buruk
Data Gizi Buruk
Di puskesmas kamonji kasus gizi buruk pada tahun 2013 sebanyak  7 kasus, kemudian pada tahun 2014 terjadi penurunan kasus menjadi 4 kasus gizi buruk dan pada tahun 2015 terjadi lagi penurunan menjadi 3 balita gizi buruk. Dilihat dari jumlah kasus, terjadi penurunan kasus gizi buruk.
Dampak Bagi Individu
Dampak gizi buruk bagi penderita yaitu pada balita dapat menimbulkan pengaruh  yang sangat menghambat pertumbuhan fisik, mental maupun kemampuan berpikir yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja. Balita penderita gizi buruk dapat mengalami penurunan kecerdasan (IQ) hingga sepuluh persen. Selain itu, penyakit yang dapat diderita balita gizi buruk adalah diabetes (kencing manis) dan penyakit jantung koroner.  Dampak paling buruk yang diterima adalah kematian pada umur yang sangat dini (Champakan et al., 1986 dalam Wigati 2009).
Dampak Bagi Masyarakat
Dampak gizi buruk bagi masyarakat yaitu, gizi buruk tidak hanya berbahaya bagi penderita, namun dalam lingkup lebih luas berakibat pada kelangsungan generasi bangsa Indonesia. Kondisi ini sangat mungkin terjadi karena mayoritas penderita gizi buruk adalah anak-anak. Jika angka gizi buruk tidak  segera ditekan, maka angka kematian bayi dan balita juga terus meningkat. Kalaupun ada yang bertahan hidup  perkembangan mental, fisik dan kecerdasan dari anak- anak yang mempunyai riwayat gizi buruk akan terganggu  (Champakan et al., 1986 dalam Wigati 2009).
6)   Gizi Kurang
Data Gizi Kurang
Di puskesmas kamonji kasus gizi kurang pada tahun 2013 sebanyak 23 kasus, kemudian pada tahun 2014 terjadi peningkatan kasus menjadi 43 kasus gizi kurang dan pada tahun 2015 terjadi penurunan drastis menjadi 2 kasus gizi kurang. Dilihat dari jumlah kasus, terjadi penurunan kasus gizi kurang.
Dampak Bagi Individu
Dampak gizi kurang bagi penderita adalah berpengaruh terhadap pertumbuhan, anak-anak tidak tumbuh menurut potensinya, otot-otot menjadi lembek dan rambut mudah rontok, menyebabkan kekurangan tenaga untuk bergerak, bekerja dan melakukan aktifitas, pengaruh terhadap daya tahan, penderita mudah terserang infeksi seperti pilek, batuk dan diare. Pada anak-anak hal ini membawa kematian. Pengaruh terhadap pertumbuhan jasmani dan mental. Kekurangan gizi ini dapat berakibat terganggunya fungsi otak (Almatsier 2006 dalam Arifin 2015).
Dampak Bagi Masyarakat
Dampak gizi kurang bagi masyarakat yaitu rendahnya produktivitas kerja, kehilangan kesempatan sekolah dan kehilangan sumberdaya karena biaya kesehatan yang tinggi (World Bank, 2006 dalam RANPG 2000).
7)   Ibu Hamil KEK
Data Ibu Hamil KEK
Di puskesmas kamonji kasus ibu hamil yang mengalami KEK pada tahun 2013 sebanyak 55 kasus, kemudian pada tahun 2014 terjadi penurunan kasus menjadi 40 kasus dan pada tahun 2015 terjadi peningkatan drastis menjadi 90 kasus bumil KEK. Dilihat dari jumlah kasus, terjadi peningkatan kasus pada tahun 2015.
Dampak Bagi Individu
Bila ibu mengalami risiko KEK selama hamil akan menimbulkan masalah, baik pada ibu maupun janin. KEK pada ibu hamil dapat menyebabkan resiko dan komplikasi pada ibu antara lain : anemia, pendarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal, dan terkena penyakit infeksi. Pengaruh KEK terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan sebelum waktunya (prematur), pendarahan setelah persalinan, serta persalinan dengan operasi cenderung meningkat. KEK ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, asfiksia intra partum (mati dalam kandungan), lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Bila BBLR bayi mempunyai resiko kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan, dan gangguan perkembangan anak (Sandjaja, 2009).
Dampak Bagi Masyarakat
Dampaknya terhadap tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktifitas generasi yang akan datang. Masa kehamilan merupakan periode yang sangat penting bagi pembentukan kualitas sumber daya manusia dimasa yang akan datang, karena tumbuh kembang anak akan sangat ditentukan oleh kondisi pada saat janin dalam kandungan. Selanjutnya berat lahir yang normal menjadi titik awal yang baik bagi proses tumbuh kembang pasca lahir. Terutama pada perkembangan kecerdasannya. Hal tersebut sangat berkaitan dengan kualitas otak anak. Pada prinsipnya kecerdasan anak dapat dibentuk pada saat masih dalam kandungan, tentunya dengan mempertimbangkan banyak hal (Kemenkes, 2012)
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah didapatkan, bahwa terdapat prioritas masalah di Puskesmas Kamonji yaitu masalah yang berkaitan dengan permasalahan gizi. Metode yang digunakan dalam penentuan prioritas masalah adalah metode matriks Urgency, Seriuosness dan Growth atau yang sering disingkat matriks USG. Dalam penggunaan Matriks USG, kelompok kami mengangkat empat permasalahan yang meningkat setiap tahunnya atau terjadi fluktuasi.
Pada penggunaan matriks USG, untuk menentukan suatu masalah yang prioritas, terdapat tiga faktor yang perlu dipertimbangkan. Ketiga faktor tersebut adalah Urgency, Seriuosness dan Growth (USG). Untuk mengurangi tingkat subyektivitas dalam menentukan prioritas masalah, maka perlu menetapkan kriteria untuk masing-masing unsur USG tersebut. Umumnya digunakan skor dengan skala tertentu. Misalnya penggunaan skor skala 1-5, semakin tinggi tingkat Urgency, Seriuosness dan Growth masalah tersebut, maka semakin tinggi skor untuk masing-masing unsur tersebut.
a.    Urgency berkaitan dengan mendesaknya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Semakin mendesak suatu masalah untuk diselesaikan maka semakin tinggi urgensi masalah tersebut.
Matriks Urgency
No.
MASALAH
Nilai U
1.
DIARE
5
2
IBU HAMIL (KEK)
4
3.
BBLR
3
4.
ASI EKSLUSIF
2

Diare adalah masalah yang paling Urgency dikarenakan apabila tidak segera ditangani maka akan berdampak pada kematian.
b.    Seriousness berkaitan dengan dampak dari adanya masalah tersebut terhadap organisasi. Dampak ini terutama yang menimbulkan kerugian bagi organisasi seperti dampaknya terhadap produktivitas, keselamatan jiwa manusia, sumber daya atau sumber dana. Semakin tinggi dampak masalah tersebut terhadap organisasi maka semakin serius masalah tersebut.
Matriks Seriousness
No.
MASALAH
Nilai S
1.
DIARE
5
2
IBU HAMIL (KEK)
4
3.
BBLR
3
4.
ASI EKSLUSIF
2
Masalah Diare memiliki skor tertinggi berdasarkan Seriousness dikarenakan apabila tidak segera ditangani maka akan menimbulkan dampak yang sangat berbahaya hingga berujung kematian.
c.    Growth berkaitan dengan pertumbuhan masalah. Semakin cepat berkembang masalah tersebut maka semakin tinggi tingkat pertumbuhannya.
                                                     Matriks Growth
No.
MASALAH
Nilai G
1.
IBU HAMIL (KEK)
5
2
ASI EKSLUSIF
4
3.
BBLR
3
4.
DIARE
2

Ibu Hamil KEK memiliki skor tertinggi berdasarkan tingkat Growth dikarenakan apabila tidak segera ditangani maka semakin cepat pertumbuhan masalah. Pertumbuhan masalah yang dimaksud adalah apabila masalah Ibu Hamil yang KEK tidak segera diselesaikan maka akan menimbulkan masalah baru seperti dampak yang akan terjadi saat persalinan, dampak saat persalinan, dampak saat persalinan, dampak saat nifas, dampak pada bayi dan janin.









Matriks USG
No
MASALAH
U
S
G
Total
Skor
Urutan  prioritas
1.
IBU HAMIL (KEK)
4
4
5
13
5
2
ASI EKSLUSIF
2
2
4
8
2
3.
BBLR
3
3
3
9
3
4.
DIARE
5
5
2
12
4
*Keterangan :
1. Tidak Bermasalah
2. Kurang Bermasalah
3. Cukup Bermasalah
4. Bermasalah
5. Sangat Bermasalah
Melihat dari tingkat Urgency, Seriousness dan Growth masalah dengan skor tertinggi adalah permasalahan Ibu Hamil KEK. Masalah tersebut dapat dilihat dari bagaimana dampak pada ibu dan anak kedepannya.
2.    Analisis Masalah
Analisis masalah didasarkan pada penelaahan hasil identifikasi dengan menganalisis faktor penyebab terjadinya masalah, tujuannya untuk dapat memahami masalah secara jelas dan spesifik serta terukur, sehingga mempermudah penentuan alternatif masalah. Berdasarkan hasil dari matriks USG, maka masalah yang kelompok kami pilih yaitu kasus Ibu Hamil yang mengalami KEK, karena memiliki poin tertinggi yaitu 5 yang berarti sangat bermasalah.



Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi KEK :
·      Faktor Sosial Ekonomi
Faktor sosial ekonomi ini terdiri dari:
a)    Pendapatan Keluarga
Tingkat pendapatan dapat menentukan pola makanan. Orang dengan tingkat ekonomi tinggi akan membelanjakan sebagian besar pendapatan untuk makan, sedangkan dengan tingkat ekonomi rendah akan berkurang belanja untuk makanan. Pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kualitas dan kuantitas hidangan. Semakin banyak mempunyai uang berarti semakin baik makanan yang diperoleh, dengan kata lain semakin tinggi penghasilan, semakin besar pula persentase dari penghasilan tersebut untuk membeli buah, sayuran dan beberapa jenis makanan lainnya
b)   Pendidikan Ibu
Latar belakang pendidikan seseorang merupakan salah satu unsur penting yang dapat mempengaruhi keadaan gizinya karena dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan/informasi tentang gizi yang dimiliki menjadi lebih baik.
c)    Faktor pola konsumsi
Pola makanan masyarakat Indonesia pada umumnya mengandung sumber besi heme (hewani) yang rendah dan tinggi sumber besi non heme (nabati), menu makanan juga banyak mengandung serat dan fitat yang merupakan faktor penghambat penyerapan besi.
d)   Faktor perilaku
Kebiasaan dan pandangan wanita terhadap makanan, pada umumnya wanita lebih memberikan perhatian khusus pada kepala keluarga dan anak-anaknya. Ibu hamil harus mengkonsumsi kalori paling sedikit 3000 kalori/hari Jika ibu tidak punya kebiasaan buruk seperti merokok, maka status gizi bayi yang kelak dilahirkannya juga baik dan sebaliknya (Weni, 2010).

·      Faktor Biologis
Faktor biologis ini diantaranya terdiri dari :
a)        Usia Ibu Hamil
Melahirkan anak pada usia ibu yang muda atau terlalu tua mengakibatkan kualitas janin/anak yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu. Karena pada ibu yang terlalu muda (kurang dari 20 tahun) dapat terjadi kompetisi makanan antara janin dan ibunya sendiri yang masih dalam masa pertumbuhan dan adanya perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan. Sehingga usia yang paling baik adalah lebih dari 20 tahun dan kurang dari 35 tahun, sehingga diharapkan status gizi ibu hamil akan lebih baik
b)        Jarak kehamilan
Ibu dikatakan terlalu sering melahirkan bila jaraknya kurang dari 2 tahun. Penelitian menunjukkan bahwa apabila keluarga dapat mengatur jarak antara kelahiran anaknya lebih dari 2 tahun maka anak akan memiliki probabilitas hidup lebih tinggi dan kondisi anaknya lebih sehat dibanding anak dengan jarak kelahiran dibawah 2 tahun. Jarak melahirkan yang terlalu dekat akan menyebabkan kualitas janin/anak yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu. Ibu tidak memperoleh kesempatan untuk memperbaiki tubuhnya sendiri (ibu memerlukan energi yang cukup untuk memulihkan keadaan setelah melahirkan anaknya). Dengan mengandung kembali maka akan menimbulkan masalah gizi ibu dan janin/bayi berikut yang dikandung.
c).   Paritas
Paritas adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup. Paritas diklasifikasikan sebagai berikut:
*   Primipara adalah seorang wanita yang telah pernah melahirkan satu kali dengan janin yang telah mencapai batas viabilitas, tanpa mengingat janinnya hidup atau mati pada waktu lahir.
*   Multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami dua atau lebih kehamilan yang berakhir pada saat janin telah mencapai batas viabilitas.
*   Grande multipara adalah seorang wanita yang telah mengalami lima atau lebih kehamilan yang berakhir pada saat janin telah mencapai      batas    kehamilan. Kehamilan dengan jarak pendek dengan kehamilan sebelumnya kurang dari 2 tahun / kehamilan yang terlalu sering dapat menyebabkan gizi kurang karena dapat menguras cadangan zat gizi tubuh serta organ reproduksi belum kembali sempurna seperti sebelum masa kehamilan.
d).  Berat badan saat hamil
Berat badan yang lebih ataupun kurang dari pada berat badan rata-rata untuk umur tertentu merupakan faktor untuk menentukan jumlah zat makanan yang harus diberikan agar kehamilannya berjalan dengan lancar. Di Negara maju pertambahan berat badan selama hamil.sekitar 12-14 kg. Jika ibu kekurangan gizi pertambahannya hanya 7-8 kg dengan akibat akan melahirkan bayi dengan berat lahir rendah. Pertambahan berat badan selama  hamil sekitar 10 – 12 kg, dimana pada trimester I pertambahan kurang dari 1 kg, trimester II sekitar 3 kg dan trimester III sekitar 6 kg. Pertambahan berat badan ini juga sekaligus bertujuan memantau pertumbuhan janin (Weni, 2010).
3.    Menentukan Kegiatan Perbaikan Gizi
Langkah ini didasarkan pada analisis masalah yang secara langsung maupun tidak langsung yang berkaitan dengan upaya peningkatan status gizi masyarakat, langkah ketiga pengelolaan program perbaikan gizi ini dimulai dengan penetapan tujuan yaitu upaya-upaya penetapan kegiatan yang dapat mempercepat penanggulangan masalah gizi yang ada.
Adapun penyebab Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil  Di puskesmas Kamonji yaitu :


1.    Pendapatan keluarga
Adapun alternatif pemecahan masalahnya yaitu meningkatkan pendapatan keluarga, yang bertujuan agar ibu hamil dapat membeli makanan yang bergizi.
2.    Pengetahuan dan pendidikan ibu
Adapun alternatif pemecahan masalahnya yaitu melakukan meningkatkan pengetahuan ibu, yang bertujuan agar ibu hamil dan wanita usia subur dapat menambah wawasan dan informasi tentang masalah KEK pada ibu hamil.
3.    Pola konsumsi ibu hamil
Adapun alternatif pemecahan  masalahnya yaitu mengonsumsi makanan bergizi yang mengandung sumber utama yang diperlukan yaitu karbohidrat, lemak dan protein serta buah-buahan dan sayuran serta memperhatikan frekuensi dan porsi makan yang bertujuan untuk meningkatkan gizi ibu hamil.
Program Kegiatan Perbaikan Gizi
1.      KREMIL (Kreasi Ibu Hamil)
Untuk program KREMIL dilakukan selama 6 bulan. Program ini dilakukan guna meningkatkan perekonomian ibu hamil. Pada pelaksanaan program ini sumber dana berasal dari masing-masing ibu hamil yang mengikuti kegiatan tersebut. Dana yang terkumpul digunakan sebagai modal awal untuk melakukan kegiatan. Kegiatan ini dilakukan setiap 3 kali dalam seminggu yang dilaksanakan pada hari rabu, jumat dan minggu yang dilaksanakan pada malam hari agar tidak mengganggu aktivitas ibu hamil. Kegiatan  ini dilaksanakan di salah satu rumah ibu hamil secara bergiliran, dan capaian target yang kami harapkan yaitu 40 %.
2.      TEMIL (Temu Ibu Hamil)
Untuk program TEMIL dilakukan selama 6 bulan. Program ini dilakukan guna meningkatkan pengetahuan ibu, yang bertujuan agar ibu hamil dan wanita usia subur dapat menambah wawasan dan informasi tentang masalah KEK pada ibu hamil. Pada pelaksanaan program ini sumber dana berasal dari bantuan operasional kesehatan dan dana dari puskesmas. Kegiatan ini dilakukan setiap 2 minggu sekali, selama 6 bulan dan capaian target yang kami harapkan yaitu 60 %.
3.      KAMIL (Kantin Bumil)
Untuk program KAMIL dilakukan selama 6 bulan. Program ini dilakukan guna meningkatkan gizi ibu hamil yaitu berupa Pemberian Makanan Tambahan untuk Ibu Hamil (PMT BUMIL). Kegiatan ini dilakukan setiap hari selama 3 bulan. Pengadaan makanan tambahan ibu hamil dilakukan oleh puskesmas dan bekerjasama dengan pusat atau provinsi/kabupaten/kota pengelolaan PMT ibu hamil meliputi persiapan, pelaksanaan, mekanisme distribusi, spesifikasi, cara pemberian, cara pengangkutan dan cara penyimpanan. Capaian target yang kami harapkan yaitu 50 %.
4.    Melaksanakan Program Perbaikan Gizi
Setelah perencanaan program tersusun, kemudian dilakukan langkah-langkah yang terencana untuk setiap kegiatan. Kami sebagai Ahli Gizi (TPG) Puskesmas Kamonji melakukan tiga Jenis kegiatan perbaikan gizi yaitu
membuka lapangan pekerjaan untuk ibu hamil yang diberi nama KREMIL (Kreasi Ibu Hamil) kemudian kegiatan yang kedua  yaitu melakukan Komunikasi Informasi dan Edukasi tentang faktor yang mempengaruhi kejadian KEK dan tentang mengkonsumsi makanan yang bervariasi, yang diberi nama TEMIL (Temu Ibu Hamil) dan kegiatan yang ketiga yaitu pemberian makanan tambahan untuk  Ibu hamil yang diberi nama KAMIL (Kantin Bumil).
1.      What (Apa)
Melakukan program KREMIL, TEMIL dan KAMIL. Adapun dalam program KREMIL dilakukan setiap 3 kali dalam seminggu yang dimana dalam kegiatan ini ibu hamil membuat usaha kecil seperti membuat kue. Program TEMIL melakukan komunikasi informasi dan edukasi mengenai KEK dan faktor yang mempengaruhinya serta bagaimana menanggulanginya. Program KAMIL yaitu pengadaan makanan tambahan ibu hamil. 

2.      Who (siapa)
Program ini dilakukan oleh ahli gizi puskesmas yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan kota palu dan ditujukan kepada ibu hamil.
3.      Where (dimana)
Program ini akan dilaksanakan di Puskesmas Kamonji dan di salah satu rumah ibu hamil secara bergiliran setiap 3 kali dalam seminggu.
4.      When (Kapan)
Program KREMIL dilaksanakan setiap 3 kali dalam seminggu yang dilaksanakan pada hari rabu, jumat dan minggu. TEMIL dilaksanakan setiap seminggu sekali. KAMIL dilaksanakan setiap hari selama 3 bulan.
5.      Why (Mengapa)
Program KREMIL dilakukan untuk meningkatkan perekonomian ibu hamil, program TEMIL dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan pendidikan ibu dan program KAMIL bertujuan untuk meningkatkan gizi ibu hamil.
6.        How (Bagaimana)
·       Adapun langkah-langkah program kreasi ibu hamil yaitu :
1.    Menyiapkan data ibu hamil (Gakin dan non Gakin) berdasarkan data dari Puskesmas kecamatan.
2.    Mengajak ibu hamil yang tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk mengikuti kegiatan ini.
3.    Menentukan waktu dan lokasi untuk membuat kreasi. Dalam hal ini tempat yang ditunjuk yaitu rumah warga (ibu hamil).
4.    Melakukan kegiatan yang telah direncanakan, seperti membuat kue dan kreasi lain yang dapat menghasilkan uang.
5.    Setelah selesai, kue yang dibuat akan dijual/dipasarkan ke toko-toko terdekat. Kemudian hasil dari penjualan dibagikan kepada ibu–ibu hamil yang masuk dalam organisasi tersebut.
·       Adapun langkah-langkah program Temu Ibu Hamil yaitu :
1.    Menyusun perencanaan penyuluhan
2.    Menyusun materi / isi penyuluhan
3.    Memilih metode yang tepat
4.    Menentukan jenis alat peraga yang akan digunakan
5.    Penentuan kriteria evaluasi
6.    Pelaksanaan penyuluhan
7.    Penilaian hasil penyuluhan
8.    Tindak lanjut dari penyuluhan
·       Langkah-langkah dalam melakukan program Kantin Ibu Hamil yaitu :
1.  Persiapan
a.  Menyiapkan tempat penyimpanan makanan tambahan.
b.  Menyiapkan data ibu hamil (Gakin dan non Gakin) berdasarkan data dari Puskesmas kecamatan.
2.  Pelaksanaan
a.  Mensosialisasikan dan memantau program PMT ibu hamil kepada lintas program dan sektor.
b.  Menerima dan menyimpan makanan tambahan ibu hamil.
c.  Mendistribusikan makanan tambahan ibu hamil Gakin ke Puskesmas.
3.  Mekanisme Distribusi
a.  Produsen mengirimkan makanan tambahan ke gudang yang telah disiapkan oleh Dinkes kabupaten/kota. Frekuensi pengiriman dilakukan sesuai jadwal yang disepakati antara Dinkes provinsi, Dinkes kabupaten/kota dan produsen dengan memperhatikan berbagai hal antara lain kondisi lapangan, transportasi dan jarak antara provinsi dan kabupaten/kota.
b.  Dinkes kabupaten/kota menginformasikan alokasi makanan tambahan untuk masing-masing Puskesmas kepada pengelola program gizi dan penanggung jawab gudang sesuai dengan rencana distribusi yang telah dibuat Puskesmas.
c.  Dinkes kabupaten/kota berkoordinasi dengan tim koordinasi kabupaten/kota untuk menentukan rencana distribusi ke masing-masing Puskesmas berdasarkan usulan yang disampaikan oleh Puskesmas Dinkes kabupaten/kota melalui gudang kabupaten/kota harus segera mendistribusikan makanan tambahan tersebut ke Puskesmas dengan segera sesuai kebutuhan masing-masing.
d.  Petugas gudang melakukan pencatatan dan pelaporan administrasi gudang dengan membuat Surat Bukti Barang Masuk (SBBM), Surat Bukti Barang Keluar (SBBK), Kartu Persediaan Barang (KPB), dan Buku Agenda Ekspedisi (BAE).
e.  Puskesmas menyiapkan tempat penyimpanan sesuai petunjuk yang terdapat pada kemasan kardus.
f.  Di Puskesmas/Poskesdes/Pustu, bidan atau petugas yang ditunjuk bersama kader memberikan biskuit lapis kepada sasaran berdasarkan rujukan dari Posyandu dengan kriteria :
1)  Ibu hamil dari keluarga miskin dan ibu hamil yang beresiko KEK dengan LILA <23,5 cm.
2)  Apabila persediaan makanan tambahan tidak mencukupi, sasaran PMT diprioritaskan pada Ibu hamil KEK dari keluarga miskin dan ibu hamil KEK.
h. Biaya distribusi makanan tambahan dari Puskesmas sampai dengan sasaran akan dibebankan antara lain pada dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dan dana operasional Puskesmas.
4.  Cara Pengangkutan
a.  Mengangkut makanan tambahan tidak bersamaan dengan barang-barang non pangan yang berbau tajam dan bahan berbahaya (pestisida, bahan kimia, minyak tanah dan bahan jenis lainnya).
b.  Makanan tambahan harus terhindar dari kerusakan dan kotoran yang menyebabkan kontaminasi.
5.  Cara Penyimpanan
a.  Gudang penyimpanan harus selalu higienis, tidak berdebu, dan bebas dari tikus, kecoa dan binatang pengerat lainnya.
b.  Ruang gudang tidak bocor dan lembab, ruangan mempunyai ventilasi dan pencahayaan yang baik.
c.  Bangunan dan pekarangan sekitar gudang harus selalu bersih, bebas kotoran dan sampah.
d.  Pintu gudang dapat dibuka dan ditutup dengan rapat pada saat keluar masuk makanan tambahan.
e.  Makanan tambahan diletakkan di alas/rak/palet/ yang kuat berjarak minimal 10-20 cm dari lantai dan minimal 30 cm dari dinding.
f.  Penyusunan/peletakan/penumpukan makanan tambahan sedemikian rupa sehingga barang tetap dalam kondisi baik. Susunan maksimum tumpukan adalah 12 karton.
g.  Menyusun karton makanan tambahan dalam gudang harus menggunakan alas/rak/palet dan dilarang menginjak tumpukan karton lainnya.
h.  Makanan tambahan yang masuk ke gudang yang lebih awal dikeluarkan terlebih dahulu (First In First Out= FIFO).
i.   Penyimpanan makanan tambahan tidak dicampurkan dengan bahan lain dan bahan bukan pangan.
j.   Makanan tambahan yang rusak selama penyimpanan di gudang, diambil, dipisahkan dari makanan tambahan yang masih baik.
k.  Makanan tambahan yang telah dinyatakan rusak perlu dibuatkan berita acara penghapusan oleh tim yang ditunjuk oleh kepala Dinkes kabupaten/kota setempat.
i.   Makanan tambahan dinyatakan rusak apabila kemasan berlubang, robek, pecah, kempes dan teksturnya berubah. Pada waktu melakukan bongkar muat makanan tambahan dilarang menggunakan ganco atau dibanting.
6.  Pemantauan dan evaluasi meliputi aspek-aspek :
a.  Pendistribusian makanan tambahan.
b.  Penyimpanan makanan tambahan.
c.  Pemberian makanan tambahan sampai ke sasaran.
d.  Pembinaan pelaksanaan distribusi makanan tambahan.
5.    Pemantauan dan Evaluasi
           Kegiatan Pemantauan yang baik selalu dimulai sejak langkah awal perencanaan dibuat sampai dengan suatu kegiatan telah selesai dilaksanakan, sedangkan evaluasi hanya melihat bagian-bagian tertentu dari kegiatan yang dilaksanakan.
Pemantauan adalah pengawasan secara periodik terhadap pelaksanaan kegiatan program perbaikan gizi dalam menentukan besarnya input yang diberikan, proses yang berjalan maupun output yang dicapai. Tujuannya untuk menindak lanjuti kegiatan program selama pelaksanaan kegiatan, dilakukan untuk menjamin bahwa Proses pelaksanaan sesusai Action Plan dan jadwal.
Kegiatan pemantauan dapat dilakukan melalui Sistem Pencatatan dan       Pelaporan termasuk laporan khusus, Pelaksanaan Quality Assurance Pelayanan Gizi dan Unit pengaduan masyarakat.
Hasil Kegiatan pemantauan kemudian dibuatkan lagi kegiatan-kegiatan Tindak lanjut pemantauan yang dilakukan melalui Umpan balik, bupervisi dan bimbingan tehnis. Evaluasi  adalah suatu proses untuk mengukur keterkaitan, efektivitas, efisiensi dan dampak suatu program, dilakukan dengan tujuan memperbaiki rancangan, menentukan suatu bentuk kegiatan yang tepat, memperoleh masukan untuk digunakan dalam proses perencanaan yang akan datang.
a.    Input
·         Terdapat SDM (Ahli Gizi (TPG), petugas kesehatan/kader)
·         Terdapat data ibu hamil KEK (Gakin dan non Gakin)
·         Terdapat Dana untuk melakukan program
·         Ketersediaan PMT
·         Sarana dan prasarana
b. Process
·           Registrasi jumlah Ibu Hamil dengan status gizi KEK
·           Pencatatan dan pelaporan
·           Jadwal pelaksanaan program
·           Penyediaan materi KIE
·           Penyediaan PMT
·           Pelaksanaan Program
c.         Output
·           Terjadi peningkatan pengetahuan ibu hamil.
·           Terjadi penurunan jumlah ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK).





                                                        

















DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainul. Gambaran Pola  Makanan Anak Usia 3-5 Tahun Dengan Gizi Kurang Di Pondok Bersalin Tri Sakti Balong Tani Kecamatan Jabon-Sidoarjo. Jurnal Midwiferia. 2015. Vol. 1. No.1.(Hal 17).
Dewi Riana Kurnia  dan Budiantara I Nyoman. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Angka Gizi Buruk Di Jawa Timur dengan Pendekatan Regresi Nonparametrik Spline. Jurnal Sains Dan Seni ITS. 2012. Vol. 1. No. 1. (Hal 177).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 2012. Modul Tatalaksana Standar Pneumonia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2009. Pneumonia, Penyebab Kematian Utama Balita.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Rencana Strategis Kementrian Kesehatan Tahun 2010-2014.
Mardji, Widha Ayu R. M Dan Devi, Mazarina. Pengaruh Penyuluhan Asi Eksklusif Terhadap Pengetahuan Ibu Tentang Asi Eksklusif Dan Sikap Ibu Menyusui Di Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Jurnal Teknologi Dan Kejuruan. 2014. Vol. 37. No. 1 (Hal 65-72).
Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi  2006-2010. 2000. Nutrition throughout life cycle the report on The World Nutrition Situation.
Sandjaja. Risiko Kurang Energi Kronis (KEK) Pada Ibu Hamil Di Indonesia. Gizi Indon. 2009. Vol. 32. No. 2.
Sulistiani, Karlina. 2014. Faktor Risiko Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Tangerang Selatan Tahun 2011-2014. Peminatan Epidemiologi. Program Studi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah : Jakarta.
Suprijati. 2001. Faktor-Faktor Yang Menghambat Ibu Dalam Pemberian Asi Ekslusif Di Wilayah Puskesmas Pembantu Bagi Kecamatan Madiun Kabupaten Madiun. Akademi Kebidanan Harapan Mulya Ponorogo.
Weni. 2010. Gizi Ibu Hamil. Muha Medika : Yogyakarta.
Wigati, Tri Retno. Fenomena Gizi Buruk pada Keluarga dengan Status Ekonomi Baik : Sebuah Studi tentang Negative Deviance di Indonesia. Journal of Public Health. 2009. Vol. 5. No. 3 (89-93).



https://drive.google.com/file/d/0B0vNujfELAqzbjQtTzA4ckt5S0U/view?usp=sharing