TUGAS
KELOMPOK
PERENCANAAN,
INTERVENSI DAN EVALUASI PROGRAM GIZI
(Lima Langkah Pengelolaan Program Perbaikan
Gizi Di Puskesmas Kamonji)
![]() |
PEMINATAN
GIZI KESEHATAN MASYARAKAT
PROGRAM
STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS
KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS
TADULAKO
PALU
2016
Lima
Langkah Pengelolaan Program Perbaikan Gizi Di Puskesmas
Lima langkah
pengelolaan program perbaikan gizi di Puskesmas pada dasarnya sama dengan
langkah-langkah pada pedoman pengelolaann gizi yang dilakukan di Tingkat
Kabupaten yang dikeluarkan Direktorat Bina Gizi Depkes RI, dimulai dari langkah
pertama yaitu Identifikasi Masalah, kemudian Langkah Kedua Analisis masalah.
Langkah pertama dan kedua biasa dikenal dengan perencanaan (planning). Langkah Ketiga adalah
Menentukan kegiatan perbaikan gizi, langkah ini biasa juga dikenal atau disebut
juga dengan pengorganisasian (organising).
Langkah Keempat adalah melaksanakan program perbaikan gizi, langkah ini disebut
juga dengan Pelaksanaan (actuating).
Dan yang terakhir adalah Langkah Kelima yaitu pantauan dan evaluasi, langkah
ini disebut juga dengan (controlling and
evaluation).
1. Identifikasi Masalah
Dalam identifikasi masalah gizi, langkah-langkah
yang perlu diperhatikan adalah mempelajari data berupa angka atau
keterangan-keterangan yang berhubungan dengan identifikasi masalah gizi.
Kemudian melakukan validasi terhadap data yang tersedia, maksudnya melihat
kembali data, apakah sudah sesuai dengan data yang seharusnya dikumpulkan dan
dipelajari. Selanjutnya mempelajari besaran dan sebaran masalah gizi, setelah
itu rumuskan masalah gizi dengan menggunakan jumlah kasus.
1) Pneunomia
Data
Pneunomia
Di puskesmas kamonji kejadian
pneunomia pada tahun 2013 sebanyak 953 kasus, kemudian terjadi penurunan pada
tahun 2014 sebanyak 731 kasus dan pada
tahun 2015 terjadi lagi penurunan kejadian pneunomia sebanyak 496 kasus. Dilihat
dari jumlah kasus, terjadi penurunan dari tahun 2014 dan 2015.
Dampak
Bagi Individu
Anak yang menderita pneumonia, kemampuan paru-paru
untuk mengembang berkurang sehingga tubuh bereaksi dengan bernapas cepat agar
tidak terjadi hipoksia (kekurangan oksigen). Apabila pneumonia bertambah parah,
paru akan bertambah kaku dan timbul tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam.
Anak dengan pneumonia dapat meninggal karena hipoksia atau sepsis (infeksi
menyeluruh) (Kemenkes RI, 2009).
Dampak
Bagi Masyarakat
Dampak
pneumonia terhadap masyarakat yaitu sebagai pembunuh utama anak dibawah usia
lima tahun (Balita). Di dunia, dari 9 juta kematian Balita lebih dari 2 juta
Balita meninggal setiap tahun akibat pneumonia atau sama dengan 4 Balita
meninggal setiap menitnya. Dari lima kematian Balita, satu diantaranya disebabkan
pneumonia (Kemenkes RI, 2009).
2) Diare
Data
Diare
Di puskesmas kamonji kejadian diare
pada tahun 2013 sebanyak 721 kasus, kemudian pada tahun 2014 terjadi peningkatan
sebanyak 783 kasus dan pada tahun 2015 terjadi peningkatan lagi sebanyak 838
kasus. Dilihat dari jumlah kasus, terjadi peningkatan dari tahun 2014 dan 2015.
Dampak
Bagi Individu
Dampak negatif penyakit diare pada
bayi dan anak-anak antara lain menghambat proses tumbuh kembang anak yang pada
akhirnya dapat menurunkan kualitas hidup anak (Nelson, 2009).
Dampak
Bagi Masyarakat
Penyakit ini mempunyai konotasi
yang mengerikan serta menimbulkan kecemasan dan kepanikan warga masyarakat
karena bila tidak segera diobati, dalam waktu singkat penderita akan meninggal
(Nelson, 2009).
3) BBLR
Data
BBLR
Di puskesmas kamonji kejadian BBLR
pada tahun 2013 sebanyak 8 kasus, kemudian pada tahun 2014 terjadi peningkatan
sebanyak 41 kasus dan pada tahun 2015 terjadi penurunan sebanyak 16 kasus.
Dilihat dari jumlah kasus, terjadi fluktuasi.
Dampak
Bagi Individu
Dampak BBLR bagi individu yaitu,
memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami keterbelakangan pada awal
pertumbuhan, mudah terkena penyakit dan mengalami kematian selama masa bayi dan
masa anak-anak (WHO 2011 dalam Sulistiani K, 2014).
Dampak
Bagi Masyarakat
Dampak BBLR bagi masyarakat yaitu,
menyebabkan berbagai masalah kesehatan, salah satunya masalah kesehatan jangka
panjang (WHO 2011 dalam Sulistiani K, 2014).
4) ASI Eksklusif
Data
ASI Eksklusif
Di puskesmas kamonji pemberian ASI
Eksklusif pada tahun 2013 sebanyak 606
bayi, kemudian pada tahun 2014 terjadi penurunan pemberian ASI Eksklusif sebanyak 440 bayi dan pada tahun
2015 terjadi penurunan sebanyak 290 bayi. Dilihat dari jumlah kasus, terjadi penurunan
pemberian ASI Eksklusif.
Dampak
Bagi Individu
Dampak yang
ditimbulkan akibat pemberian ASI tidak memadai adalah pertumbuhan bayi
terganggu, perkembangan bayi terhambat, bayi mudah terserang penyakit, hubungan
kasih sayang ibu tidak terjalin dengan baik (Suprijati, 2001).
Dampak
Bagi Masyarakat
Dampak yang ditimbulkan bagi masyarakat akibat pemberian ASI
tidak memadai yaitu kejadian Kurang Energi Protein (KEP) pada
bayi. Rendahnya pemberian ASI Eksklusif dapat memberikan peluang bagi
penggunaan susu formula bayi atau Pengganti ASI (PASI) maupun penggunaan
Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang terlalu dini, mempunyai resiko terjadinya
diare, sehingga dapat menyebabkan terjadinya KEP pada anak balita. (Departemen
Kesehatan RI 2005 dalam Mardji 2014).
Bahwa rendahnya angka pencapaian
ASI eksklusif yang terus menerus tentu saja berpengaruh terhadap rendahnya
semua fungsi intelektual, kemampuan verbal, dan kemampuan visual motorik bayi.
Bayi yang tidak pernah mendapat ASI berisiko meninggal 25,00% lebih tinggi
dalam periode sesudah kelahiran daripada bayi yang mendapat ASI. Pemberian ASI
yang lebih lama akan menurunkan resiko mortalitas bayi (Roesli 2008 dalam
Mardji 2014).
5) Gizi Buruk
Data
Gizi Buruk
Di puskesmas kamonji kasus gizi
buruk pada tahun 2013 sebanyak 7 kasus,
kemudian pada tahun 2014 terjadi penurunan kasus menjadi 4 kasus gizi buruk dan
pada tahun 2015 terjadi lagi penurunan menjadi 3 balita gizi buruk. Dilihat
dari jumlah kasus, terjadi penurunan kasus gizi buruk.
Dampak
Bagi Individu
Dampak gizi
buruk bagi penderita yaitu pada balita dapat menimbulkan pengaruh yang sangat menghambat pertumbuhan fisik,
mental maupun kemampuan berpikir yang pada akhirnya akan menurunkan
produktivitas kerja. Balita penderita gizi buruk dapat mengalami penurunan
kecerdasan (IQ) hingga sepuluh persen. Selain itu, penyakit yang dapat diderita
balita gizi buruk adalah diabetes (kencing manis) dan penyakit jantung
koroner. Dampak paling buruk yang
diterima adalah kematian pada umur yang sangat dini (Champakan et al., 1986
dalam Wigati 2009).
Dampak
Bagi Masyarakat
Dampak gizi
buruk bagi masyarakat yaitu, gizi buruk tidak hanya berbahaya bagi penderita,
namun dalam lingkup lebih luas berakibat pada kelangsungan generasi bangsa
Indonesia. Kondisi ini sangat mungkin terjadi karena mayoritas penderita gizi
buruk adalah anak-anak. Jika angka gizi buruk tidak segera ditekan, maka angka kematian bayi dan
balita juga terus meningkat. Kalaupun ada yang bertahan hidup perkembangan mental, fisik dan kecerdasan
dari anak- anak yang mempunyai riwayat gizi buruk akan terganggu (Champakan et al., 1986 dalam Wigati 2009).
6) Gizi Kurang
Data
Gizi Kurang
Di puskesmas kamonji kasus gizi
kurang pada tahun 2013 sebanyak 23 kasus, kemudian pada tahun 2014 terjadi
peningkatan kasus menjadi 43 kasus gizi kurang dan pada tahun 2015 terjadi
penurunan drastis menjadi 2 kasus gizi kurang. Dilihat dari jumlah kasus, terjadi
penurunan kasus gizi kurang.
Dampak
Bagi Individu
Dampak gizi kurang bagi penderita
adalah berpengaruh terhadap pertumbuhan, anak-anak tidak tumbuh menurut
potensinya, otot-otot menjadi lembek dan rambut mudah rontok, menyebabkan
kekurangan tenaga untuk bergerak, bekerja dan melakukan aktifitas, pengaruh
terhadap daya tahan, penderita mudah terserang infeksi seperti pilek, batuk dan
diare. Pada anak-anak hal ini membawa kematian. Pengaruh terhadap pertumbuhan
jasmani dan mental. Kekurangan gizi ini dapat berakibat terganggunya fungsi
otak (Almatsier 2006 dalam Arifin 2015).
Dampak
Bagi Masyarakat
Dampak gizi
kurang bagi masyarakat yaitu rendahnya produktivitas kerja, kehilangan
kesempatan sekolah dan kehilangan sumberdaya karena biaya kesehatan yang tinggi
(World Bank, 2006 dalam RANPG 2000).
7) Ibu Hamil KEK
Data
Ibu Hamil KEK
Di puskesmas kamonji kasus ibu
hamil yang mengalami KEK pada tahun 2013 sebanyak 55 kasus, kemudian pada tahun
2014 terjadi penurunan kasus menjadi 40 kasus dan pada tahun 2015 terjadi peningkatan
drastis menjadi 90 kasus bumil KEK. Dilihat dari jumlah kasus, terjadi peningkatan
kasus pada tahun 2015.
Dampak
Bagi Individu
Bila ibu
mengalami risiko KEK selama hamil akan menimbulkan masalah, baik pada ibu
maupun janin. KEK pada ibu hamil dapat menyebabkan resiko dan komplikasi pada
ibu antara lain : anemia, pendarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara
normal, dan terkena penyakit infeksi. Pengaruh KEK terhadap proses persalinan
dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan sebelum waktunya
(prematur), pendarahan setelah persalinan, serta persalinan dengan operasi
cenderung meningkat. KEK ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin
dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal,
cacat bawaan, anemia pada bayi, asfiksia intra partum (mati dalam kandungan),
lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Bila BBLR bayi mempunyai resiko
kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan, dan gangguan perkembangan anak (Sandjaja,
2009).
Dampak
Bagi Masyarakat
Dampaknya
terhadap tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktifitas generasi yang
akan datang. Masa kehamilan merupakan periode yang sangat penting bagi
pembentukan kualitas sumber daya manusia dimasa yang akan datang, karena tumbuh
kembang anak akan sangat ditentukan oleh kondisi pada saat janin dalam
kandungan. Selanjutnya berat lahir yang normal menjadi titik awal yang baik
bagi proses tumbuh kembang pasca lahir. Terutama pada perkembangan
kecerdasannya. Hal tersebut sangat berkaitan dengan kualitas otak anak. Pada
prinsipnya kecerdasan anak dapat dibentuk pada saat masih dalam kandungan,
tentunya dengan mempertimbangkan banyak hal (Kemenkes, 2012)
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah
didapatkan, bahwa terdapat prioritas masalah di Puskesmas Kamonji yaitu masalah
yang berkaitan dengan permasalahan gizi. Metode yang digunakan dalam penentuan
prioritas masalah adalah metode matriks Urgency, Seriuosness dan Growth
atau yang sering disingkat matriks USG. Dalam penggunaan Matriks
USG, kelompok kami mengangkat empat permasalahan yang meningkat setiap tahunnya
atau terjadi fluktuasi.
Pada penggunaan matriks USG, untuk menentukan suatu
masalah yang prioritas, terdapat tiga faktor yang perlu dipertimbangkan. Ketiga
faktor tersebut adalah Urgency, Seriuosness dan Growth
(USG). Untuk
mengurangi tingkat subyektivitas dalam menentukan prioritas masalah, maka perlu
menetapkan kriteria untuk masing-masing unsur USG tersebut. Umumnya digunakan
skor dengan skala tertentu. Misalnya penggunaan skor skala 1-5, semakin tinggi
tingkat Urgency, Seriuosness dan Growth masalah
tersebut, maka semakin tinggi skor untuk masing-masing unsur tersebut.
a.
Urgency berkaitan
dengan mendesaknya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Semakin mendesak suatu masalah untuk diselesaikan maka semakin tinggi urgensi
masalah tersebut.
Matriks Urgency
No.
|
MASALAH
|
Nilai U
|
1.
|
DIARE
|
5
|
2
|
IBU HAMIL (KEK)
|
4
|
3.
|
BBLR
|
3
|
4.
|
ASI
EKSLUSIF
|
2
|
Diare
adalah masalah yang paling Urgency dikarenakan apabila tidak segera ditangani maka akan berdampak pada
kematian.
b.
Seriousness berkaitan
dengan dampak dari adanya masalah tersebut terhadap organisasi. Dampak ini
terutama yang menimbulkan kerugian bagi organisasi seperti dampaknya terhadap
produktivitas, keselamatan jiwa manusia, sumber daya atau sumber dana. Semakin
tinggi dampak masalah tersebut terhadap organisasi maka semakin serius masalah
tersebut.
Matriks Seriousness
No.
|
MASALAH
|
Nilai S
|
1.
|
DIARE
|
5
|
2
|
IBU HAMIL (KEK)
|
4
|
3.
|
BBLR
|
3
|
4.
|
ASI
EKSLUSIF
|
2
|
Masalah Diare memiliki skor tertinggi berdasarkan Seriousness dikarenakan apabila tidak
segera ditangani maka akan menimbulkan dampak yang sangat berbahaya hingga
berujung kematian.
c.
Growth berkaitan
dengan pertumbuhan masalah. Semakin cepat berkembang masalah tersebut maka
semakin tinggi tingkat pertumbuhannya.
Matriks
Growth
No.
|
MASALAH
|
Nilai G
|
1.
|
IBU
HAMIL (KEK)
|
5
|
2
|
ASI EKSLUSIF
|
4
|
3.
|
BBLR
|
3
|
4.
|
DIARE
|
2
|
Ibu Hamil KEK memiliki skor tertinggi berdasarkan
tingkat Growth dikarenakan apabila
tidak segera ditangani maka semakin cepat pertumbuhan masalah. Pertumbuhan
masalah yang dimaksud adalah apabila masalah Ibu Hamil yang KEK tidak segera
diselesaikan maka akan menimbulkan masalah baru seperti dampak yang akan
terjadi saat persalinan, dampak saat persalinan, dampak saat persalinan, dampak
saat nifas, dampak pada bayi dan janin.
Matriks
USG
No
|
MASALAH
|
U
|
S
|
G
|
Total
Skor
|
Urutan prioritas
|
1.
|
IBU
HAMIL (KEK)
|
4
|
4
|
5
|
13
|
5
|
2
|
ASI EKSLUSIF
|
2
|
2
|
4
|
8
|
2
|
3.
|
BBLR
|
3
|
3
|
3
|
9
|
3
|
4.
|
DIARE
|
5
|
5
|
2
|
12
|
4
|
*Keterangan
:
1.
Tidak Bermasalah
2.
Kurang Bermasalah
3.
Cukup Bermasalah
4.
Bermasalah
5.
Sangat Bermasalah
Melihat dari tingkat Urgency,
Seriousness dan Growth masalah dengan skor tertinggi adalah
permasalahan Ibu Hamil KEK. Masalah tersebut dapat dilihat dari
bagaimana dampak pada ibu dan anak kedepannya.
2. Analisis Masalah
Analisis
masalah didasarkan pada penelaahan hasil identifikasi dengan menganalisis faktor
penyebab terjadinya masalah, tujuannya untuk dapat memahami masalah secara
jelas dan spesifik serta terukur, sehingga mempermudah penentuan alternatif
masalah. Berdasarkan hasil dari matriks USG, maka masalah yang kelompok kami
pilih yaitu kasus Ibu Hamil yang mengalami KEK, karena memiliki poin tertinggi
yaitu 5 yang berarti sangat bermasalah.
Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi KEK :
·
Faktor
Sosial Ekonomi
Faktor
sosial ekonomi ini terdiri dari:
a) Pendapatan Keluarga
Tingkat
pendapatan dapat menentukan pola makanan. Orang dengan tingkat ekonomi tinggi
akan membelanjakan sebagian besar pendapatan untuk makan, sedangkan dengan
tingkat ekonomi rendah akan berkurang belanja untuk makanan. Pendapatan
merupakan faktor yang paling menentukan kualitas dan kuantitas hidangan.
Semakin banyak mempunyai uang berarti semakin baik makanan yang diperoleh,
dengan kata lain semakin tinggi penghasilan, semakin besar pula persentase dari
penghasilan tersebut untuk membeli buah, sayuran dan beberapa jenis makanan
lainnya
b) Pendidikan Ibu
Latar
belakang pendidikan seseorang merupakan salah satu unsur penting yang dapat
mempengaruhi keadaan gizinya karena dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan
pengetahuan/informasi tentang gizi yang dimiliki menjadi lebih baik.
c) Faktor pola konsumsi
Pola makanan masyarakat Indonesia pada umumnya mengandung sumber besi heme
(hewani) yang rendah dan tinggi sumber besi non heme (nabati), menu makanan
juga banyak mengandung serat dan fitat yang merupakan faktor penghambat
penyerapan besi.
d) Faktor perilaku
Kebiasaan dan pandangan wanita terhadap makanan, pada umumnya wanita lebih
memberikan perhatian khusus pada kepala keluarga dan anak-anaknya. Ibu hamil
harus mengkonsumsi kalori paling sedikit 3000 kalori/hari Jika ibu tidak punya
kebiasaan buruk seperti merokok, maka status gizi bayi yang kelak dilahirkannya
juga baik dan sebaliknya (Weni, 2010).
·
Faktor
Biologis
Faktor
biologis ini diantaranya terdiri dari :
a)
Usia Ibu Hamil
Melahirkan
anak pada usia ibu yang muda atau terlalu tua mengakibatkan kualitas janin/anak
yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu. Karena pada ibu yang terlalu
muda (kurang dari 20 tahun) dapat terjadi kompetisi makanan antara janin dan
ibunya sendiri yang masih dalam masa pertumbuhan dan adanya perubahan hormonal
yang terjadi selama kehamilan. Sehingga usia yang paling baik adalah lebih dari
20 tahun dan kurang dari 35 tahun, sehingga diharapkan status gizi ibu hamil
akan lebih baik
b)
Jarak kehamilan
Ibu dikatakan terlalu sering melahirkan bila jaraknya kurang dari 2 tahun.
Penelitian menunjukkan bahwa apabila keluarga dapat mengatur jarak antara
kelahiran anaknya lebih dari 2 tahun maka anak akan memiliki probabilitas hidup
lebih tinggi dan kondisi anaknya lebih sehat dibanding anak dengan jarak
kelahiran dibawah 2 tahun. Jarak melahirkan yang terlalu dekat akan menyebabkan
kualitas janin/anak yang rendah dan juga akan merugikan kesehatan ibu. Ibu
tidak memperoleh kesempatan untuk memperbaiki tubuhnya sendiri (ibu memerlukan
energi yang cukup untuk memulihkan keadaan setelah melahirkan anaknya). Dengan
mengandung kembali maka akan menimbulkan masalah gizi ibu dan janin/bayi
berikut yang dikandung.
c). Paritas
Paritas adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup.
Paritas diklasifikasikan sebagai berikut:
d). Berat badan saat hamil
Berat badan yang lebih ataupun kurang dari pada berat badan rata-rata untuk
umur tertentu merupakan faktor untuk menentukan jumlah zat makanan yang harus
diberikan agar kehamilannya berjalan dengan lancar. Di Negara maju pertambahan
berat badan selama hamil.sekitar 12-14 kg. Jika ibu kekurangan gizi pertambahannya
hanya 7-8 kg dengan akibat akan melahirkan bayi dengan berat lahir rendah. Pertambahan
berat badan selama hamil sekitar 10 – 12 kg, dimana pada trimester I
pertambahan kurang dari 1 kg, trimester II sekitar 3 kg dan trimester III
sekitar 6 kg. Pertambahan berat badan ini juga sekaligus bertujuan memantau
pertumbuhan janin (Weni, 2010).
3. Menentukan Kegiatan Perbaikan Gizi
Langkah
ini didasarkan pada analisis masalah yang secara langsung maupun tidak langsung
yang berkaitan dengan upaya peningkatan status gizi masyarakat, langkah ketiga
pengelolaan program perbaikan gizi ini dimulai dengan penetapan tujuan yaitu
upaya-upaya penetapan kegiatan yang dapat mempercepat penanggulangan masalah
gizi yang ada.
Adapun penyebab Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada
ibu hamil Di puskesmas Kamonji yaitu
:
1.
Pendapatan keluarga
Adapun alternatif pemecahan
masalahnya yaitu meningkatkan pendapatan keluarga, yang bertujuan agar ibu
hamil dapat membeli makanan yang bergizi.
2.
Pengetahuan dan pendidikan ibu
Adapun alternatif pemecahan
masalahnya yaitu melakukan meningkatkan
pengetahuan ibu, yang bertujuan agar ibu hamil dan wanita usia subur dapat
menambah wawasan dan informasi tentang masalah KEK pada ibu hamil.
3.
Pola konsumsi ibu hamil
Adapun alternatif pemecahan masalahnya yaitu mengonsumsi makanan bergizi
yang mengandung sumber utama yang diperlukan yaitu karbohidrat, lemak dan
protein serta buah-buahan dan sayuran serta memperhatikan frekuensi dan porsi
makan yang bertujuan untuk meningkatkan gizi ibu hamil.
Program
Kegiatan Perbaikan Gizi
1. KREMIL
(Kreasi Ibu Hamil)
Untuk program KREMIL dilakukan
selama 6 bulan. Program ini dilakukan guna meningkatkan perekonomian ibu hamil.
Pada pelaksanaan program ini sumber dana berasal dari masing-masing ibu hamil
yang mengikuti kegiatan tersebut. Dana yang terkumpul digunakan sebagai modal
awal untuk melakukan kegiatan. Kegiatan ini dilakukan setiap 3 kali dalam
seminggu yang dilaksanakan pada hari rabu, jumat dan minggu yang dilaksanakan
pada malam hari agar tidak mengganggu aktivitas ibu hamil. Kegiatan ini dilaksanakan di salah satu rumah ibu
hamil secara bergiliran, dan capaian target yang kami harapkan yaitu 40 %.
2. TEMIL (Temu Ibu Hamil)
Untuk program TEMIL dilakukan
selama 6 bulan. Program ini dilakukan guna meningkatkan pengetahuan ibu, yang bertujuan agar ibu hamil dan wanita usia
subur dapat menambah wawasan dan informasi tentang masalah KEK pada ibu hamil.
Pada pelaksanaan program ini sumber dana berasal dari bantuan operasional
kesehatan dan dana dari puskesmas. Kegiatan ini dilakukan setiap 2 minggu
sekali, selama 6 bulan dan capaian target yang kami harapkan yaitu 60 %.
3. KAMIL (Kantin Bumil)
Untuk program KAMIL dilakukan selama 6 bulan. Program
ini dilakukan guna meningkatkan gizi ibu hamil yaitu berupa Pemberian Makanan
Tambahan untuk Ibu Hamil (PMT BUMIL). Kegiatan ini dilakukan setiap hari selama
3 bulan. Pengadaan makanan tambahan
ibu hamil dilakukan oleh puskesmas dan bekerjasama dengan pusat atau provinsi/kabupaten/kota
pengelolaan PMT ibu hamil meliputi persiapan, pelaksanaan, mekanisme
distribusi, spesifikasi, cara pemberian, cara pengangkutan dan cara
penyimpanan. Capaian target yang kami harapkan yaitu 50 %.
4.
Melaksanakan Program Perbaikan Gizi
Setelah perencanaan program tersusun, kemudian dilakukan langkah-langkah yang terencana untuk setiap kegiatan. Kami sebagai Ahli Gizi (TPG) Puskesmas Kamonji melakukan tiga Jenis kegiatan perbaikan gizi yaitu membuka lapangan pekerjaan untuk ibu hamil yang diberi nama KREMIL (Kreasi Ibu Hamil) kemudian kegiatan yang kedua yaitu melakukan Komunikasi Informasi dan Edukasi tentang faktor yang mempengaruhi kejadian KEK dan tentang mengkonsumsi makanan yang bervariasi, yang diberi nama TEMIL (Temu Ibu Hamil) dan kegiatan yang ketiga yaitu pemberian makanan tambahan untuk Ibu hamil yang diberi nama KAMIL (Kantin Bumil).
Setelah perencanaan program tersusun, kemudian dilakukan langkah-langkah yang terencana untuk setiap kegiatan. Kami sebagai Ahli Gizi (TPG) Puskesmas Kamonji melakukan tiga Jenis kegiatan perbaikan gizi yaitu membuka lapangan pekerjaan untuk ibu hamil yang diberi nama KREMIL (Kreasi Ibu Hamil) kemudian kegiatan yang kedua yaitu melakukan Komunikasi Informasi dan Edukasi tentang faktor yang mempengaruhi kejadian KEK dan tentang mengkonsumsi makanan yang bervariasi, yang diberi nama TEMIL (Temu Ibu Hamil) dan kegiatan yang ketiga yaitu pemberian makanan tambahan untuk Ibu hamil yang diberi nama KAMIL (Kantin Bumil).
1.
What (Apa)
Melakukan
program KREMIL, TEMIL dan KAMIL. Adapun
dalam program KREMIL dilakukan setiap 3 kali dalam seminggu yang dimana dalam
kegiatan ini ibu hamil membuat usaha kecil seperti membuat kue. Program TEMIL
melakukan komunikasi informasi dan edukasi mengenai KEK dan faktor yang
mempengaruhinya serta bagaimana menanggulanginya. Program KAMIL yaitu pengadaan
makanan tambahan ibu hamil.
2.
Who (siapa)
Program ini dilakukan oleh ahli gizi puskesmas yang
bekerja sama dengan Dinas Kesehatan kota palu dan ditujukan kepada ibu hamil.
3.
Where (dimana)
Program ini akan dilaksanakan di Puskesmas Kamonji dan
di salah satu rumah ibu hamil secara bergiliran setiap 3 kali dalam seminggu.
4.
When (Kapan)
Program KREMIL dilaksanakan setiap
3 kali dalam seminggu yang dilaksanakan pada hari rabu, jumat dan minggu. TEMIL
dilaksanakan setiap seminggu sekali. KAMIL dilaksanakan setiap hari selama 3
bulan.
5.
Why (Mengapa)
Program KREMIL dilakukan untuk meningkatkan
perekonomian ibu hamil, program TEMIL dilakukan untuk meningkatkan
pengetahuan dan pendidikan ibu dan program KAMIL bertujuan untuk
meningkatkan gizi ibu hamil.
6.
How (Bagaimana)
· Adapun langkah-langkah program
kreasi ibu hamil yaitu :
1.
Menyiapkan data
ibu hamil (Gakin dan non Gakin) berdasarkan data dari Puskesmas kecamatan.
3.
Menentukan waktu dan lokasi untuk
membuat kreasi. Dalam hal ini tempat yang ditunjuk yaitu rumah warga (ibu
hamil).
4.
Melakukan kegiatan yang telah
direncanakan, seperti membuat kue dan kreasi lain yang dapat menghasilkan uang.
5.
Setelah selesai, kue yang dibuat akan
dijual/dipasarkan ke toko-toko terdekat. Kemudian hasil dari penjualan
dibagikan kepada ibu–ibu hamil yang masuk dalam organisasi tersebut.
·
Adapun
langkah-langkah program Temu Ibu Hamil yaitu :
1.
Menyusun
perencanaan penyuluhan
2.
Menyusun materi / isi penyuluhan
3.
Memilih metode yang tepat
4.
Menentukan jenis alat peraga yang akan
digunakan
5.
Penentuan kriteria evaluasi
6.
Pelaksanaan
penyuluhan
7.
Penilaian
hasil penyuluhan
8.
Tindak lanjut
dari penyuluhan
·
Langkah-langkah
dalam melakukan program Kantin Ibu
Hamil yaitu :
1. Persiapan
a. Menyiapkan
tempat penyimpanan makanan tambahan.
b. Menyiapkan
data ibu hamil (Gakin dan non Gakin) berdasarkan data dari Puskesmas kecamatan.
2. Pelaksanaan
a. Mensosialisasikan
dan memantau program PMT ibu hamil kepada lintas program dan sektor.
b. Menerima dan
menyimpan makanan tambahan ibu hamil.
c. Mendistribusikan
makanan tambahan ibu hamil Gakin ke Puskesmas.
3. Mekanisme
Distribusi
a. Produsen
mengirimkan makanan tambahan ke gudang yang telah disiapkan oleh Dinkes
kabupaten/kota. Frekuensi pengiriman dilakukan sesuai jadwal yang disepakati
antara Dinkes provinsi, Dinkes kabupaten/kota dan produsen dengan memperhatikan
berbagai hal antara lain kondisi lapangan, transportasi dan jarak antara
provinsi dan kabupaten/kota.
b. Dinkes
kabupaten/kota menginformasikan alokasi makanan tambahan untuk masing-masing
Puskesmas kepada pengelola program gizi dan penanggung jawab gudang sesuai
dengan rencana distribusi yang telah dibuat Puskesmas.
c. Dinkes
kabupaten/kota berkoordinasi dengan tim koordinasi kabupaten/kota untuk
menentukan rencana distribusi ke masing-masing Puskesmas berdasarkan usulan
yang disampaikan oleh Puskesmas Dinkes kabupaten/kota melalui gudang
kabupaten/kota harus segera mendistribusikan makanan tambahan tersebut ke
Puskesmas dengan segera sesuai kebutuhan masing-masing.
d. Petugas gudang
melakukan pencatatan dan pelaporan administrasi gudang dengan membuat Surat
Bukti Barang Masuk (SBBM), Surat Bukti Barang Keluar (SBBK), Kartu Persediaan
Barang (KPB), dan Buku Agenda Ekspedisi (BAE).
e. Puskesmas
menyiapkan tempat penyimpanan sesuai petunjuk yang terdapat pada kemasan
kardus.
f. Di
Puskesmas/Poskesdes/Pustu, bidan atau petugas yang ditunjuk bersama kader
memberikan biskuit lapis kepada sasaran berdasarkan rujukan dari Posyandu
dengan kriteria :
1) Ibu hamil
dari keluarga miskin dan ibu hamil yang beresiko KEK dengan LILA <23,5 cm.
2) Apabila
persediaan makanan tambahan tidak mencukupi, sasaran PMT diprioritaskan pada
Ibu hamil KEK dari keluarga miskin dan ibu hamil KEK.
h. Biaya distribusi makanan tambahan dari
Puskesmas sampai dengan sasaran akan dibebankan antara lain pada dana Bantuan
Operasional Kesehatan (BOK) dan dana operasional Puskesmas.
4. Cara
Pengangkutan
a. Mengangkut
makanan tambahan tidak bersamaan dengan barang-barang non pangan yang berbau
tajam dan bahan berbahaya (pestisida, bahan kimia, minyak tanah dan bahan jenis
lainnya).
b. Makanan
tambahan harus terhindar dari kerusakan dan kotoran yang menyebabkan
kontaminasi.
5. Cara
Penyimpanan
a. Gudang penyimpanan
harus selalu higienis, tidak berdebu, dan bebas dari tikus, kecoa dan binatang
pengerat lainnya.
b. Ruang gudang
tidak bocor dan lembab, ruangan mempunyai ventilasi dan pencahayaan yang baik.
c. Bangunan dan
pekarangan sekitar gudang harus selalu bersih, bebas kotoran dan sampah.
d. Pintu gudang
dapat dibuka dan ditutup dengan rapat pada saat keluar masuk makanan tambahan.
e. Makanan
tambahan diletakkan di alas/rak/palet/ yang kuat berjarak minimal 10-20 cm dari
lantai dan minimal 30 cm dari dinding.
f. Penyusunan/peletakan/penumpukan
makanan tambahan sedemikian rupa sehingga barang tetap dalam kondisi baik.
Susunan maksimum tumpukan adalah 12 karton.
g. Menyusun
karton makanan tambahan dalam gudang harus menggunakan alas/rak/palet dan
dilarang menginjak tumpukan karton lainnya.
h. Makanan
tambahan yang masuk ke gudang yang lebih awal dikeluarkan terlebih dahulu
(First In First Out= FIFO).
i. Penyimpanan
makanan tambahan tidak dicampurkan dengan bahan lain dan bahan bukan pangan.
j. Makanan tambahan
yang rusak selama penyimpanan di gudang, diambil, dipisahkan dari makanan
tambahan yang masih baik.
k. Makanan
tambahan yang telah dinyatakan rusak perlu dibuatkan berita acara penghapusan
oleh tim yang ditunjuk oleh kepala Dinkes kabupaten/kota setempat.
i. Makanan
tambahan dinyatakan rusak apabila kemasan berlubang, robek, pecah, kempes dan
teksturnya berubah. Pada waktu melakukan bongkar muat makanan tambahan dilarang
menggunakan ganco atau dibanting.
6. Pemantauan
dan evaluasi meliputi aspek-aspek :
a. Pendistribusian
makanan tambahan.
b. Penyimpanan
makanan tambahan.
c. Pemberian
makanan tambahan sampai ke sasaran.
d. Pembinaan
pelaksanaan distribusi makanan tambahan.
5.
Pemantauan dan Evaluasi
Kegiatan Pemantauan yang baik selalu dimulai sejak langkah awal perencanaan dibuat sampai dengan suatu kegiatan telah selesai dilaksanakan, sedangkan evaluasi hanya melihat bagian-bagian tertentu dari kegiatan yang dilaksanakan.
Kegiatan Pemantauan yang baik selalu dimulai sejak langkah awal perencanaan dibuat sampai dengan suatu kegiatan telah selesai dilaksanakan, sedangkan evaluasi hanya melihat bagian-bagian tertentu dari kegiatan yang dilaksanakan.
Pemantauan adalah pengawasan secara
periodik terhadap pelaksanaan kegiatan program perbaikan gizi dalam menentukan
besarnya input yang diberikan, proses yang berjalan maupun output yang dicapai.
Tujuannya untuk menindak lanjuti kegiatan program selama pelaksanaan kegiatan,
dilakukan untuk menjamin bahwa Proses pelaksanaan sesusai Action Plan dan jadwal.
Kegiatan pemantauan dapat dilakukan
melalui Sistem Pencatatan dan
Pelaporan termasuk laporan khusus, Pelaksanaan Quality Assurance Pelayanan Gizi dan Unit pengaduan masyarakat.
Hasil
Kegiatan pemantauan kemudian dibuatkan lagi kegiatan-kegiatan Tindak lanjut
pemantauan yang dilakukan melalui Umpan balik,
bupervisi dan bimbingan tehnis. Evaluasi adalah suatu proses untuk mengukur
keterkaitan, efektivitas, efisiensi dan dampak suatu program, dilakukan dengan
tujuan memperbaiki rancangan, menentukan suatu bentuk kegiatan yang tepat,
memperoleh masukan untuk digunakan dalam proses perencanaan yang akan datang.
a. Input
·
Terdapat SDM (Ahli Gizi (TPG), petugas kesehatan/kader)
·
Terdapat data ibu hamil KEK (Gakin dan non Gakin)
·
Terdapat Dana
untuk melakukan program
·
Ketersediaan PMT
·
Sarana dan prasarana
b. Process
·
Registrasi jumlah Ibu Hamil dengan status gizi KEK
·
Pencatatan dan pelaporan
·
Jadwal pelaksanaan program
·
Penyediaan materi KIE
·
Penyediaan PMT
·
Pelaksanaan
Program
c.
Output
·
Terjadi
peningkatan pengetahuan ibu hamil.
·
Terjadi
penurunan jumlah ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK).
DAFTAR
PUSTAKA
Arifin, Zainul. Gambaran
Pola Makanan Anak Usia 3-5 Tahun Dengan
Gizi Kurang Di Pondok Bersalin Tri Sakti Balong Tani Kecamatan Jabon-Sidoarjo.
Jurnal Midwiferia. 2015. Vol. 1. No.1.(Hal 17).
Dewi Riana Kurnia
dan Budiantara I Nyoman. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Angka Gizi Buruk Di Jawa Timur dengan
Pendekatan Regresi Nonparametrik Spline. Jurnal Sains Dan Seni ITS. 2012.
Vol. 1. No. 1. (Hal 177).
Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan. 2012. Modul Tatalaksana Standar Pneumonia.
Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. 2009. Pneumonia, Penyebab Kematian Utama Balita.
Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia. 2012. Rencana Strategis Kementrian Kesehatan Tahun
2010-2014.
Mardji, Widha Ayu R. M Dan Devi, Mazarina. Pengaruh
Penyuluhan Asi Eksklusif Terhadap Pengetahuan Ibu Tentang Asi Eksklusif Dan
Sikap Ibu Menyusui Di Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Jurnal Teknologi Dan Kejuruan. 2014. Vol. 37. No. 1 (Hal
65-72).
Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010. 2000. Nutrition throughout life cycle the report on The
World Nutrition Situation.
Sandjaja. Risiko Kurang Energi Kronis (KEK) Pada Ibu
Hamil Di Indonesia. Gizi Indon. 2009.
Vol. 32. No. 2.
Sulistiani, Karlina. 2014. Faktor Risiko Kejadian
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Tangerang
Selatan Tahun 2011-2014. Peminatan Epidemiologi. Program Studi Kesehatan Masyarakat.
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah : Jakarta.
Suprijati. 2001.
Faktor-Faktor Yang Menghambat Ibu Dalam Pemberian Asi Ekslusif Di Wilayah
Puskesmas Pembantu Bagi Kecamatan Madiun Kabupaten Madiun. Akademi Kebidanan
Harapan Mulya Ponorogo.
Weni.
2010. Gizi Ibu Hamil. Muha Medika : Yogyakarta.
Wigati, Tri
Retno. Fenomena Gizi Buruk pada Keluarga dengan Status Ekonomi Baik : Sebuah
Studi tentang Negative Deviance di
Indonesia. Journal of Public Health.
2009. Vol. 5. No. 3 (89-93).
https://drive.google.com/file/d/0B0vNujfELAqzbjQtTzA4ckt5S0U/view?usp=sharing

Tidak ada komentar:
Posting Komentar